SUARA PEMBARUAN DAILY

Sistem Penjejak ala Serial ”Mission Impossible”

Bagi pengusaha yang selalu ingin memonitor armada bergeraknya, saat ini di Indonesia sudah ada teknologinya untuk itu. Teknologi yang menggunakan satelit ini akan meneruskan sinyal dan posisi armada transportasi ke layar monitor komputer.

Dengan demikian, seorang pengusaha tak perlu waswas armada yang dimilikinya dibawa kabur si sopir. Tidak hanya kemampuan menyajikan posisi kendaraan, alat yang dinamai Sistem Penjejak (SP) ini juga dapat menyampaikan keadaan darurat yang dialami armada itu. Armada transportasi yang dapat memakai teknologi SP ini pun tidak hanya terbatas mobil, truk atau bus, tetapi juga kapal laut.

Teknologi SP yang dikembangkan oleh PT Sigma Delta Duta Nusantara (SDDN) ini sebetulnya berangkat dari komunikasi radio dan UHF yang selama ini sudah digunakan oleh beberapa perusahaan. ’’SP yang kami kenalkan ini tentu saja lebih maju karena menggunakan satelit. Daya cakupan wilayahnya pun lebih luas dari sistem komunikasi pengawasan armada transportasi yang selama ini telah digunakan,’’ papar Direktur Operasi PT SDDN Andika Triwidada kepada Pembaruan, baru-baru ini, di Jakarta.

Teknologi SP ini, paparnya, akan menampilkan peta elektronik dengan perbandingan skala seperti yang diinginkan pemakainya. Untuk wilayah Jabotabek biasanya 1:5.000. ’’Bisa juga menggunakan skala peta 1:25.000 karena peta ini sudah menunjukkan jalan raya, provinsi, dan kota-kota besar,’’ jelasnya.

Untuk pemetaan itu, teknologi SP menggunakan peta dari Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Global Positioning System (GPS). Penerima GPS yang dipasang pada armada ini nantinya akan memberikan informasi posisi, waktu, kecepatan, dan arah gerak.

Peta Elektronik

Apabila armada transportasi yang tengah dipindai (dilihat dengan cermat) berada di seantero Nusantara atau wilayah yang lebih luas dari itu, dibutuhkan base station yang akan meneruskan data dari dan ke unit bergerak itu.

Dari base station ini, data dikirimkan ke layar komputer pengusaha. Komputer untuk memindai posisi armada bergerak itu haruslah dalam versi Windows. Peta elektronik yang memperlihatkan posisi unit bergerak itu pun dapat tersaji dalam sekejap manakala diinginkan.

Jadi, sambil ongkang kaki (layaknya serial Mission Impossible atau film Hollywood lainnya), si pengusaha dapat memonitor armadanya. Apakah armadanya menempuh perjalanan sesuai target atau mendapat gangguan.

Untuk memonitor ini, menurut Kusnassriyanto S Bahri yang menangani software pada SP, satu unit komputer bisa di-setting untuk memindai beberapa armada. ’’Idealnya satu komputer memang 10 kendaraan,’’ ujarnya.

Ini bukan karena sistem ini tidak mampu men-setting banyak armada untuk satu komputer, tetapi untuk lebih memudahkan pemonitor dalam mengawasi armada. Bayangkan apabila satu komputer yang berarti digunakan satu pemonitor harus memindai ratusan armada bergerak. Yang pusing orangnya, bukan teknologinya!

Kendati teknologi sudah secanggih ala Mission Impossible, SP ini memiliki kelemahan juga. Kelemahannya antara lain karena pemakaian satelit dimaksud.

Layaknya telepon genggam, sinyal pun tidak bisa diteruskan base station ke armada bergerak yang tengah berada di lantai dasar sebuah gedung. ’’Tetapi, kami di SDDN melengkapi SP pada unit bergerak itu dengan Dead Reckoning yang dapat meramalkan posisi armada manakala sinyal hilang,’’ jelas Andika.

Kelemahan SP lainnya yaitu tingkat kesalahannya sekitar 5 hingga 20 meter. Dengan kata lain, ketika peta elektronik tergelar di mata Anda saat membuka komputer, pastikan bahwa posisi yang disajikan itu memiliki tingkat kesalahan antara 5 hingga 20 meter.

Kekurangcanggihan teknologi SP ini antara lain juga karena peta elektronik tidak bisa disajikan pada layar komputer yang sama-sama bergerak, misalnya, laptop. ’’Komputer pemonitor harus stabil di suatu tempat,’’ tambahnya.

Bagi Pencemburu

Dalam waktu dekat, SDDN yang sumber daya manusianya kebanyakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan mengembangkan SP yang menggunakan sistem GSM. Dengan GSM ini, menurut Kusnassriyanto, pemakai SP hanya dikenai tarif seperti kalau mengirim SMS. ’’Operator GSM-nya pun bisa siapa saja yang ada sekarang ini di Indonesia,’’ ujarnya.

SP untuk perorangan ini menggunakan teknologi Wireless Application Protocol (WAP). Dengan sistem ini, ibaratnya para istri, suami atau seseorang yang sedang dilanda asmara, dapat memindai dimana posisi kendaraan pasangan atau kekasihnya. ’’Aplikasinya sebetulnya lebih mudah karena kebanyakan mobil mewah yang diproduksi sekarang ini sudah dilengkapi alat navigasi dan kemampuan GPS,’’ katanya.

Mereka yang menggunakan SP untuk kepentingan perorangan ini kendati bertarif SMS, ia harus memiliki receiver penangkap data. Piranti untuk keperluan menangkap data tersebut cukup mahal dibanding tarif SMS-nya. Tetapi, bagi seorang pencemburu dan mereka yang berkantong tebal, tentunya uang bukan masalah. Hanya US$ 550 hingga US$ 1.000 untuk hardware-nya. Sedangkan software-nya seharga US$ 17.500. (N-5)